" Lo! like a fragrant
lotus at the dawn
Of day, full-blown ,
with virgin wealth
of scent,
Behold the
Buddha's glory
shining forth,
As in the vaulted
heaven beams the
sun!"
" Lihatlah! Laksana sekuntum teratai
yang wangi di waktu fajar;
tertiup oleh angin, menebar semerbak
wangi yang murni.
Memandang keagungan Buddha yang
terus terpancar;
seperti cahaya matahari bersinar di
bawah naungan langit!"
Culapanthaka tidak dapat mengingat satu baris syair selama 4 bulan.
Jadi berapa lama anda dapat mengingat syair ini?
Kemudian 4 bulan berikutnya masih kah anda dapat mengingat syair ini?
Tampilkan postingan dengan label jataka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jataka. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Januari 2012
Senin, 09 Januari 2012
Cullaka Setthi Jataka Quis time
Cullaka setthi jataka quis time
Agak aneh ya tapi wa baca baca di culaka setthi jataka ini memang ada beberapa pertanyaan?
Mengulang Hukum
Ketidakkekalan?
Sebutkan "32 kejijikan terhadap badan jasmani"?
Apa itu jhana dan sebutkan tingkatan jhana?
Apa itu sila dan sebutkan isi dasa sila?
Siapakah Buddha Kassapa?
Siapa Jīvaka Komārabhacca?
Siapa YA Ananda? dan apa tugas nya dan ke istimewaan yang didapat YA Ananda ketika menjalan kan tugasnya
Gandhakhuti? ada di vihara mana dan siapa yang beristirahat di kamar tersebut?
" Menurut cerita
yang beredar secara turun temurun,
di masa lampau saat menjadi seorang
raja, ketika sedang mengelilingi kota
dalam suatu prosesi yang khidmat, ia
menyeka keringat di keningnya
menggunakan kain bersih yang
sedang dipakainya; kain itu menjadi
kotor. Ia berpikir, “Badan jasmani ini
telah menghancurkan kemurnian
sejati dan kain putih ini, saya telah
mengotorinya. Semua benda adalah
tidak kekal adanya.” Saat ia
merenungkan tentang ketidakkekalan,
terlintas di pikiran bahwa dengan
membersihkan kotoran batinlah yang
akan
membebaskannya"
Siapa Raja yang di sebut dalam cerita?
Sebutkan 6 warna cahaya yang menandakan ke Buddhan?
yah ini hanya sedikit pertanyaan yang ada di cullaka setthi jataka?n
Agak aneh ya tapi wa baca baca di culaka setthi jataka ini memang ada beberapa pertanyaan?
Mengulang Hukum
Ketidakkekalan?
Sebutkan "32 kejijikan terhadap badan jasmani"?
Apa itu jhana dan sebutkan tingkatan jhana?
Apa itu sila dan sebutkan isi dasa sila?
Siapakah Buddha Kassapa?
Siapa Jīvaka Komārabhacca?
Siapa YA Ananda? dan apa tugas nya dan ke istimewaan yang didapat YA Ananda ketika menjalan kan tugasnya
Gandhakhuti? ada di vihara mana dan siapa yang beristirahat di kamar tersebut?
" Menurut cerita
yang beredar secara turun temurun,
di masa lampau saat menjadi seorang
raja, ketika sedang mengelilingi kota
dalam suatu prosesi yang khidmat, ia
menyeka keringat di keningnya
menggunakan kain bersih yang
sedang dipakainya; kain itu menjadi
kotor. Ia berpikir, “Badan jasmani ini
telah menghancurkan kemurnian
sejati dan kain putih ini, saya telah
mengotorinya. Semua benda adalah
tidak kekal adanya.” Saat ia
merenungkan tentang ketidakkekalan,
terlintas di pikiran bahwa dengan
membersihkan kotoran batinlah yang
akan
membebaskannya"
Siapa Raja yang di sebut dalam cerita?
Sebutkan 6 warna cahaya yang menandakan ke Buddhan?
yah ini hanya sedikit pertanyaan yang ada di cullaka setthi jataka?n
Jumat, 25 Maret 2011
No. 5. TAṆḌULANĀLI-JĀTAKA.
No. 5.
TAṆḌULANĀLI-JĀTAKA.
"Dost ask how much a peck of rice is worth?"--This was told by the Master, whilst at Jetavana, about the Elder Udāyi, called the Dullard.
At that time the reverend Dabba, the Mallian, was manciple to the Brotherhood 1. When in the early morning Dabba was allotting the checks for rice, sometimes it was choice rice and sometimes it was an inferior quality which fell to the share of the Elder Udāyi. On days when he received the inferior quality, he used to make a commotion in the check-room, by demanding, "Is Dabba the only one who knows how to give out checks? Don't we know?" One day when he was making a commotion, they handed him the check-basket, saying, "Here! you give the checks out yourself to-day!" Thenceforth, it was Udāyi who gave out the checks to the Brotherhood. But, in his distribution, he could not tell the best from the inferior rice; nor did he know what seniority 2 was entitled to the best rice and what to the inferior. So too, when he was making out the roster, he had not an idea of the seniority of the Brethren thereon. Consequently, when the Brethren took up their places, he made a mark on the ground or on the wall to shew that one detachment stood here, and another there. Next day there were fewer Brethren of one grade and more of another in the check-room; where there were fewer, the mark was too low down; where the number was greater, it was too high up. But Udāyi, quite ignorant of detachments, gave out the checks simply according to his old marks.
Hence, the Brethren said to him, "Friend Udāyi, the mark is too high up or too low down; the best rice is for those of such and such seniority, and the inferior quality for such and such others." But he put them back with the argument, "If this mark is where it is, what are you standing here for? Why am I to trust you? It's my mark I trust."
Then, the boys and novices [124] thrust him from the check-room, crying, "Friend Udāyi the Dullard, when you give out the checks, the Brethren are docked of what they ought to get; you're not fit to give them out; get you gone from here." Hereupon, a great uproar arose in the check-room.
Hearing the noise, the Master asked the Elder Ānanda, saying, "Ānanda, there is a great uproar in the check-room. What is the noise about?"
The Elder explained it all to the Buddha. "Ānanda," said he, "this is not the only time when Udāyi by his stupidity has robbed others of their profit; he did just the same thing in bygone times too."
The Elder asked the Blessed One for an explanation, and the Blessed One made clear what had been concealed by re-birth.
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1008.htm
Quote
TAṆḌULANĀLI-JĀTAKA
“Berapakah kiranya nilai satu takaran beras?” dan
seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berada di
Jetawana, tentang Thera Udāyi, yang dipanggil si Dungu.
Pada masa itu, seorang bhikkhu bernama Dabba, dari suku Malla, bertugas mengatur pembagian persediaan bahan makanan untuk Sanggha21. Di pagi hari Dabba sedang menentukan beras untuk dibagikan, kadang-kadang beras pilihan dan kadang-kadang beras yang mutunya lebih rendah, yang diberikan kepada Bhikkhu Udāyi. Biasanya saat menerima beras yang mutunya lebih rendah, ia membuat kericuhan di ruang penyimpanan dengan berkata, “Apakah Dabba satu-satunya orang yang mengetahui cara menentukan beras? Bukankah kita semua juga bisa?” Suatu hari, saat ia ricuh, mereka menyerahkan keranjang periksa kepadanya dan berkata, “Ambillah! Mulai hari ini, engkau yang menentukan pembagian beras!” Sejak itu, Udāyi bertugas menentukan pembagian beras kepada bhikkhu Sanggha. Namun, dalam pembagian yang dilakukannya, ia tidak mengetahui perbedaan beras yang mutunya bagus dan beras yang mutunya lebih rendah; ia juga tidak tahu bhikkhu senior22 dengan kedudukan apa berhak mendapatkan beras dengan kualitas baik maupun beras dengan mutu yang lebih rendah. Karena itu, saat menyusun daftar nama, ia tidak mengetahui kesenioran kedudukan para bhikkhu. Akhirnya, saat para bhikkhu mengambil tempat, ia menandai lantai maupun dinding untuk menunjukkan pemisahan siapa yang berdiri di sini dan siapa yang berdiri di sana. Di kemudian hari, lebih sedikit bhikkhu pada tingkatan tertentu dan lebih banyak bhikkhu tingkatan yang lain; dimana dengan jumlah yang semakin sedikit, tanda itu semakin menurun, dan untuk jumlah yang bertambah banyak, tandanya juga mengalami kenaikan. Namun Udāyi yang tidak mengetahui tentang pemisahan itu, membagikan penentuan beras hanya menurut tanda lama yang ia buat.
Karena itu, para bhikkhu berkata kepadanya, “Awuso Udāyi, tanda yang engkau buat terlalu tinggi atau terlalu rendah; beras yang mutunya baik, diberikan kepada bhikkhu berkedudukan demikian dan beras yang mutunya lebih rendah diberikan kepada bhikkhu dengan kedudukan yang lain.” Namun ia menyanggah dengan alasan, “Tanda itu berada di tempat seharusnya ia berada. Jika bukan tempatmu, mengapa engkau berdiri di sana? Mengapa saya harus percaya padamu? Saya hanya percaya pada tanda yang saya buat.”
Para bhikkhu dan samanera [124] mendorongnya keluar dari tempat penyimpanan itu dan berteriak, “Temanku Udāyi yang dungu, karena pembagian yang kamu lakukan, para bhikkhu tidak mendapat apa yang seharusnya menjadi bagian mereka; kamu tidak cocok untuk melakukan tugas ini; pergilah dari sini!” Kegaduhan pun terjadi di ruang penyimpanan tersebut.
Mendengar keributan itu, Sang Guru bertanya pada Ānanda, “Ānanda, ada kegaduhan di ruang penyimpanan. Keributan apakah itu?”
Thera Ānanda menjelaskan kejadian tersebut pada Buddha. “Ānanda,” kata Beliau, “ini bukan pertama kalinya kebodohan Udāyi membuat ia merampas apa yang menjadi milik orang lain; ia juga melakukan hal yang sama di masa lampau.”
Ānanda meminta Bhagawan menjelaskan, kemudian Beliau menceritakan hal yang selama ini tidak Ananda ketahui dikarenakan kelahiran kembali.
http://www.scribd.com/doc/31483424/Jataka-Vol-1
cerita ini banyak keanehan nya, menurut kalian apakah sangha meributkan hal seperti ini? bila bukan anggota sangha atau umat pada umumnya mungkin atau wajar ada keributan seperti ini. coba bayangkan bila dari bhikku pemula sampai yang senior adalah arahat apakah akan terjadi keributan seperti ini? bukan nya kita makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan? kenapa kualitas beras yang dimakan untuk hidup menjadi persoalan dan menjadi sumber pertikaian dalam cerita ini?
[quote author=Indra link=topic=13269.msg334992#msg334992 date=1301146969]
hmm, bila di pertimbangkan dari cerita no 4 sampai cerita no 6 cerita no 5 ini aneh masa bhikku makan beras? mestinya kan makan nasi.
Rice memang bisa berarti beras atau nasi, tapi utk kasus di atas tidak tau alasan apakah yg membuat si penerjemah memilih kata beras dan bukan nasi.
Quote
Lagian kalau dapet beras tuh mesti di masak menjadi nasi jadi pertanyaan nya dapur vihara jetavana sebesar apa? apa bisa menampung 500 orang bhikku memasak beras menjadi nasi belum bahan bakarnya yaitu potongan kayu bakar bukan nya para bhikku di larang memotong/menebang pohon dan belum lagi mengolah sayur mayur atau lauk pauk nya kan mesti memakai pisau untuk memotong bahan makanan seperti timun dll, bukan nya para bhikku ini tidak boleh memotong biji bijian?
para bhikkhu tidak memasak makanan, para bhikkhu hanya menerima persembahan makanan siap santap, bukan bahan makanan mentah. jadi memang "beras" di situ sepertinya tidak tepat
[/quote]
Sabtu, 20 November 2010
Menggapai Bintang Menembus Awan
well, kita yang umat Buddhis mempunyai sebuah bintang ( entah dalam hati dan pikiran kita) bintang disini adalah sila bila kita menggambar bintang secara sederhana maka kita membentuk bintang segi lima (panca sila) atau bintang segi delapan yangterbuat dari tanda + (plus) dan X (silang) menjadi * segi delapan atau atthasila, sedang dasa sila di simbolkan bagian tengah dari bintang segi lima.
Jadi pada saat kita sedang berjalan dalam kabut atau awan kita membutuhkan sebuah cahaya penerang (lampu kabut) yaitu sila yang kita lakukan sehari hari.
oke pada cerita ke Empat kita telah belajar mengurai kain dengan menarik benang nya maka kain tersebut akan lenyap menjadi benang pada akhirnya. cerita cerita pada jataka juga seperti itu kita perlu mengurai nya.
apa yang ada disini hanya sedikit membantu agar kita bisa mengurai sendiri dan mampu mengambil manfaatnya .
mari kita mengulang cerita jataka pada cerita keempat:
https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/cullaka-setthi-jataka/
disini di ceritakan seorang anak gadis yang kabur ketakutan karena hubungan nya tidak di restui oleh orang tua, memang tidak di ceritakan bagaimana sikap orang tua sang gadis, sangat menarik bukan?
nah apa yang terjadi pada pada keluarga sang gadis bila tahu ternyata anak gadis nya hilang dari runmah, siapa yang akan bersedih dan siapa akan marah ? memang pada kalimat di atas tidak di sebut tentang orang tua sang gadis tetapi faktor ini juga perlu diperhatikan.
sebenarnya dalam satu segi ketika kita sedang membaca permulaan cerita di atas kita sedang dimaki maki atau ada yang meratapi kita karena terlalu cepat datang ke cerita no 4 ini. kenapa kita di ratapi dan di maki maki soalnya perjalanan/membaca cerita jataka ini sangat panjang (547 cerita) akan kah kita kembali lagi ke cerita awal atau seperti sang gadis akan mengikuti cinta (desire) nya dan pergi dari keluarga.
karena kita sudah di maki maki di awal cerita ke empat ini di suruh balik lagi ke cerita ke tiga mari kita balik sedikit ke cerita ke 3
bila kita perhatikan baik baik maka kita akan mendapati cerita yang padat sekali pada cerita ke tiga ini tidak terlalu di sebutkan bagaimana Great merchant ini hidup dan tempat tinggal nya maka kita perlu untuk mampu melihat seperti apa rumah dari great merchant ini ada seperti apa dll juga mangkuk emas yang di gunakan untuk makan. penggambaran tempat tinggal sang merchant yang melewati waktu merupakan sebuah ketidak kekalan atau anicca.
mangkuk emas yang tertutup kotoran dan jelaga dan jarum yang menggoresnya, kadang bisa juga di umpmakan sebagai dhamma yang tertutup kotoran bathin atau kamma buruk dan jarum analisa bisa menggors nya. tetapi ada juga perumpamaan lain yaitu sebagai kamma baik yang tertutup oleh kamma buruk dari kotoran bathin sedang jarum nya ada lah kamma baik, satu sisi lain bisa menggambarkan matahari yang tertutup bulan hingga jarum nya adalah bintang di langit.
cerita ke dua
adalah tentang menggali mata air, dalam menggali mata air harus menggali lapisan lapisan tanah yang ada ini menceritakan bahwa cerita jataka juga perlu di gali melewati lapisan lapisan yang menyelimuti nya.
cerita pertama kenapa antahapindhika di sebut pertama karena kita ketahui bahwa antha pindika menggunakan keping uang emas nya menutupi tanah untuk membangun vihara yang akan di persembahkan pada Sang Buddha. berarti bahwa cerita jataka ini penuh akan keping uang emas yang menghampar
semoga kilas balik ini mampu memberi pandangan atau bantuan bagaimana melihat cerita jataka yang sebenarnya
Jadi pada saat kita sedang berjalan dalam kabut atau awan kita membutuhkan sebuah cahaya penerang (lampu kabut) yaitu sila yang kita lakukan sehari hari.
oke pada cerita ke Empat kita telah belajar mengurai kain dengan menarik benang nya maka kain tersebut akan lenyap menjadi benang pada akhirnya. cerita cerita pada jataka juga seperti itu kita perlu mengurai nya.
apa yang ada disini hanya sedikit membantu agar kita bisa mengurai sendiri dan mampu mengambil manfaatnya .
mari kita mengulang cerita jataka pada cerita keempat:
"With humblest start." This story was told by the Master about the Elder named Little Wayman, while in Jīvaka's Mango-grove 2 near Rājagaha. And here an account of Little Wayman's birth must be given. Tradition tells us that the daughter of a rich merchant's family in Rājagaha actually stooped to intimacy with a slave. Becoming alarmed lest her misconduct should get known, she said to the slave, "We can't live on here; for if my mother and father come to know of this sin of ours, they will tear us limb from limb. Let us go and live afar off." So with their belongings in their hands they stole together out by the hardly-opened door, and fled away, they cared not whither, to find a shelter beyond the ken of her family. Then they went and lived together in a certain place,http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1007.htm
“Dimulai dengan kerendahan hati,” dan seterusnya. Kisah mengenai seorang thera yang bernama Cūḷapanthaka ini diceritakan oleh Bhagawan ketika Beliau sedang berada di hutan mangga milik Jīvaka17, di dekat Rājagaha. Terdapat sedikit penjelasan mengenai kelahiran Cūḷapanthaka. Dikisahkan, anak perempuan dari seorang saudagar kaya di Rājagaha telah menurunkan martabatnya, menjalin hubungan dengan pelayan lelakinya. Karena khawatir kelakuan buruknya terbongkar, ia berkata kepada pelayan lelakinya, “Kita tidak bisa tinggal di sini lagi, jika sampai orang tuaku mengetahui kesalahan yang telah kita lakukan, mereka akan mencabik tubuh kita. Mari kita pergi dan menetap di tempat yang jauh.” Dengan membawa harta benda, mereka menyelinap keluar dari pintu rumah tersebut dan melarikan diri, mereka tidak peduli bagaimana mereka mendapatkan tempat berlindung yang aman tanpa sepengetahuan sanak keluarga gadis itu. Kemudian mereka menetap di suatu tempat,http://www.scribd.com/doc/31483424/Jataka-Vol-1
https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/cullaka-setthi-jataka/
disini di ceritakan seorang anak gadis yang kabur ketakutan karena hubungan nya tidak di restui oleh orang tua, memang tidak di ceritakan bagaimana sikap orang tua sang gadis, sangat menarik bukan?
nah apa yang terjadi pada pada keluarga sang gadis bila tahu ternyata anak gadis nya hilang dari runmah, siapa yang akan bersedih dan siapa akan marah ? memang pada kalimat di atas tidak di sebut tentang orang tua sang gadis tetapi faktor ini juga perlu diperhatikan.
sebenarnya dalam satu segi ketika kita sedang membaca permulaan cerita di atas kita sedang dimaki maki atau ada yang meratapi kita karena terlalu cepat datang ke cerita no 4 ini. kenapa kita di ratapi dan di maki maki soalnya perjalanan/membaca cerita jataka ini sangat panjang (547 cerita) akan kah kita kembali lagi ke cerita awal atau seperti sang gadis akan mengikuti cinta (desire) nya dan pergi dari keluarga.
karena kita sudah di maki maki di awal cerita ke empat ini di suruh balik lagi ke cerita ke tiga mari kita balik sedikit ke cerita ke 3
Now in that city there was a decayed family. Once they had been rich merchants, but by the time of our story they had lost all the sons and brothers and all their wealth. The sole survivors were a girl and her grandmother, and they got their living by working for hire. Nevertheless, they had got in their house the golden bowl out of which in the old days the great merchant, the head of the family, used to eat; but it had been thrown among the pots and pans, and having been long out of use, was grimed over with dirt, so that the two women did not know that it was gold.
Di kota itu terdapat sebuah keluarga yang sangat miskin. Awalnya mereka adalah keluarga saudagar yang kaya, namun saat kisah ini terjadi, mereka telah kehilangan semua anak laki- laki dan saudara laki-laki beserta semua harta kekayaan mereka. Yang tersisa dalam keluarga itu hanyalah seorang anak gadis bersama neneknya, mereka bertahan hidup dengan menerima pekerjaan upahan. Tanpa menyadari bahwa mereka masih mempunyai sebuah mangkuk emas yang dulunya dipakai oleh saudagar kaya, kepala keluarga itu untuk menyantap makanan. Akan tetapi karena sudah lama tidak dipergunakan, mangkuk emas itu tersaput kotor dengan debu dan ditempatkan di antara tumpukan belanga dan tembikar.
bila kita perhatikan baik baik maka kita akan mendapati cerita yang padat sekali pada cerita ke tiga ini tidak terlalu di sebutkan bagaimana Great merchant ini hidup dan tempat tinggal nya maka kita perlu untuk mampu melihat seperti apa rumah dari great merchant ini ada seperti apa dll juga mangkuk emas yang di gunakan untuk makan. penggambaran tempat tinggal sang merchant yang melewati waktu merupakan sebuah ketidak kekalan atau anicca.
mangkuk emas yang tertutup kotoran dan jelaga dan jarum yang menggoresnya, kadang bisa juga di umpmakan sebagai dhamma yang tertutup kotoran bathin atau kamma buruk dan jarum analisa bisa menggors nya. tetapi ada juga perumpamaan lain yaitu sebagai kamma baik yang tertutup oleh kamma buruk dari kotoran bathin sedang jarum nya ada lah kamma baik, satu sisi lain bisa menggambarkan matahari yang tertutup bulan hingga jarum nya adalah bintang di langit.
cerita ke dua
adalah tentang menggali mata air, dalam menggali mata air harus menggali lapisan lapisan tanah yang ada ini menceritakan bahwa cerita jataka juga perlu di gali melewati lapisan lapisan yang menyelimuti nya.
cerita pertama kenapa antahapindhika di sebut pertama karena kita ketahui bahwa antha pindika menggunakan keping uang emas nya menutupi tanah untuk membangun vihara yang akan di persembahkan pada Sang Buddha. berarti bahwa cerita jataka ini penuh akan keping uang emas yang menghampar
semoga kilas balik ini mampu memberi pandangan atau bantuan bagaimana melihat cerita jataka yang sebenarnya
Jumat, 19 November 2010
No. 4. CULLAKA-SEṬṬHI-JĀTAKA.
No. 4. CULLAKA-SEṬṬHI-JĀTAKA.
versi bahasa english
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1007.htm
versi bahasa indonesia
http://www.wihara.com/forum/kisah-kisah-sang-buddha/7394-jataka-4-cullaka-se-hi-jataka.html
versi bahasa english
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1007.htm
versi bahasa indonesia
http://www.wihara.com/forum/kisah-kisah-sang-buddha/7394-jataka-4-cullaka-se-hi-jataka.html
https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/cullaka-setthi-jataka/
Komentar,
cerita ini cukup panjang dan terdiri dari banyak sisi, aku tidak akan mengomentari terlalu banyak hanya sedikit bagian bagian yang dapat ku komentari saja.
Belum apa apa kita sudah di gampar sama cerita ini apakah kita si a atau si b (atau ibu mereka yang lari karena ketakutan), bila kalian si A jangan sombong karena bisa mengerti sutra sutra yang ada dan sebaiknya berbagi ( tentunya ada menyangkut juga tentang cerita ke tiga), bila kalian si B jangan cemas dan kuatir ada sebuah tehnik yang di ajarkan kepada kalian.
Kain bersih (yang maha ajaib) disini mempunyai banyak segi, salah satu segi nya.
Bahwa kita harus melihat kain ini awal mula nya seperti apa, dalam realita kita sebuah kain di bentuk dengan di tenun pada jaman dahulu, bila kita menarik ujung nya maka kain tersebut akan terurai dan menjadi sehelai benang.
Cerita ketiga juga seperti itu untuk mengerti harus di uraikan terlebih dahulu dengan perlahan lahan dan kemudian di bentuk kembali (wah enak dan curang nya wa dapetnya susah payah, cerita ke empat lsg memberitahu cara nya).
Disini juga cerita tentang kain adalah latihan tehnik konsentrasi yang di ajarkan (kenapa bukan kertas jaman dahulu mana ada kertas yang ada yah kain ini)
Kain disini juga berarti sebuah cerita jataka membutuhkan pendalaman dan konsentrasi untuk melihat hal yang sesungguh nya.
Kain jaman sekarang seperti kain tenun, kain rajut dll bahwa latihan yang kalian lakukan setiap hari tidak akan percuma suatu saat akan menjadi sehelai kain ini, kain ini juga bisa berubah menjadi pakaian dll.
Komentar,
cerita ini cukup panjang dan terdiri dari banyak sisi, aku tidak akan mengomentari terlalu banyak hanya sedikit bagian bagian yang dapat ku komentari saja.
Belum apa apa kita sudah di gampar sama cerita ini apakah kita si a atau si b (atau ibu mereka yang lari karena ketakutan), bila kalian si A jangan sombong karena bisa mengerti sutra sutra yang ada dan sebaiknya berbagi ( tentunya ada menyangkut juga tentang cerita ke tiga), bila kalian si B jangan cemas dan kuatir ada sebuah tehnik yang di ajarkan kepada kalian.
Kain bersih (yang maha ajaib) disini mempunyai banyak segi, salah satu segi nya.
Bahwa kita harus melihat kain ini awal mula nya seperti apa, dalam realita kita sebuah kain di bentuk dengan di tenun pada jaman dahulu, bila kita menarik ujung nya maka kain tersebut akan terurai dan menjadi sehelai benang.
Cerita ketiga juga seperti itu untuk mengerti harus di uraikan terlebih dahulu dengan perlahan lahan dan kemudian di bentuk kembali (wah enak dan curang nya wa dapetnya susah payah, cerita ke empat lsg memberitahu cara nya).
Disini juga cerita tentang kain adalah latihan tehnik konsentrasi yang di ajarkan (kenapa bukan kertas jaman dahulu mana ada kertas yang ada yah kain ini)
Kain disini juga berarti sebuah cerita jataka membutuhkan pendalaman dan konsentrasi untuk melihat hal yang sesungguh nya.
Kain jaman sekarang seperti kain tenun, kain rajut dll bahwa latihan yang kalian lakukan setiap hari tidak akan percuma suatu saat akan menjadi sehelai kain ini, kain ini juga bisa berubah menjadi pakaian dll.
Kamis, 18 November 2010
No. 3. SERIVĀṆIJA-JĀTAKA.
No. 3.
SERIVĀṆIJA-JĀTAKA.
versi bahasa english
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1006.htm
versi bahasa indonesia
http://www.wihara.com/forum/kisah-kisah-sang-buddha/7393-jataka-3-seriv-ija-j-taka.html
SERIVĀṆIJA-JĀTAKA.
versi bahasa english
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1006.htm
versi bahasa indonesia
http://www.wihara.com/forum/kisah-kisah-sang-buddha/7393-jataka-3-seriv-ija-j-taka.html
https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/serivanija-jataka/
Komentar,
Ini adalah contoh cerita yang memerlukan penggalian yang sangat dalam, cerita ini merupakan sebuah permata yang mempunyai banyak sisi (facet) dan di dalam nya banyak cahaya, bila kita sedikit menggulirkan permata ini maka sisi lain cerita akan nampak dengan pandangan pandangan/pengertian pengertian yang berbeda.
Disini juga di kenal kan alat bantu untuk memahami dhamma dalam cerita jataka, seperti yang di gunakan bodhisatva yaitu jarum( dalam hal ini pandangan sang bodhisatva dalam memeriksa mangkuk emas yang tertutup kotoran dan jelaga), timbangan, tas (untuk menyimpan mangkuk emas yang tertutup kotoran dan jelaga), dan juga delapan keping uang.
Sedikit tentang jarum, ada tiga hal yang dapat di ketahui tentang jarum dari nenek dan anak perempuan yang tidak memiliki jarum tapi mendapat kan timbangan maka dia mendapat manfaat dhamma meski tidak sebesar sang bodhisatva, sang bodhisatva yang secara halus memeriksa adalah jarum yang tidak terlihat dan jarum devadata yang pertama di sebut dalam cerita (jarum yang hendak di jual oleh seorang pedagang keliling tidak lah mungkin hanya ada satu saja dalam keranjang dagangan nya).
Komentar,
Ini adalah contoh cerita yang memerlukan penggalian yang sangat dalam, cerita ini merupakan sebuah permata yang mempunyai banyak sisi (facet) dan di dalam nya banyak cahaya, bila kita sedikit menggulirkan permata ini maka sisi lain cerita akan nampak dengan pandangan pandangan/pengertian pengertian yang berbeda.
Disini juga di kenal kan alat bantu untuk memahami dhamma dalam cerita jataka, seperti yang di gunakan bodhisatva yaitu jarum( dalam hal ini pandangan sang bodhisatva dalam memeriksa mangkuk emas yang tertutup kotoran dan jelaga), timbangan, tas (untuk menyimpan mangkuk emas yang tertutup kotoran dan jelaga), dan juga delapan keping uang.
Sedikit tentang jarum, ada tiga hal yang dapat di ketahui tentang jarum dari nenek dan anak perempuan yang tidak memiliki jarum tapi mendapat kan timbangan maka dia mendapat manfaat dhamma meski tidak sebesar sang bodhisatva, sang bodhisatva yang secara halus memeriksa adalah jarum yang tidak terlihat dan jarum devadata yang pertama di sebut dalam cerita (jarum yang hendak di jual oleh seorang pedagang keliling tidak lah mungkin hanya ada satu saja dalam keranjang dagangan nya).
Rabu, 17 November 2010
No. 2. VAṆṆUPATHA-JĀTAKA.
No. 2.
VAṆṆUPATHA-JĀTAKA.
versi bahasa english
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1005.htm
versi bahasa indonesia
http://www.wihara.com/forum/kisah-kisah-sang-buddha/7387-jataka-2-va-upatha-j-taka.html
VAṆṆUPATHA-JĀTAKA.
versi bahasa english
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1005.htm
versi bahasa indonesia
http://www.wihara.com/forum/kisah-kisah-sang-buddha/7387-jataka-2-va-upatha-j-taka.html
https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/vannupatha-jataka/
komentar singkat,
Masih tentang perjalanan kita harus berhati hati atau akan berputar putar di tempat yang sama saja, jadi kita harus menggali (terus menerus)arti atau pengertian yang terdapat dalam cerita jataka agar bisa merasakan atau di nyatakan dengan menemukan mata air dan meminum air (dhamma).
komentar singkat,
Masih tentang perjalanan kita harus berhati hati atau akan berputar putar di tempat yang sama saja, jadi kita harus menggali (terus menerus)arti atau pengertian yang terdapat dalam cerita jataka agar bisa merasakan atau di nyatakan dengan menemukan mata air dan meminum air (dhamma).
Selasa, 16 November 2010
No.1. APAṆṆAKA-JĀTAKA.
APAṆṆAKA-JĀTAKA.
versi bahasa english
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1004.htm
versi bahasa indonesia
versi bahasa english
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1004.htm
versi bahasa indonesia
https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/apannaka-jataka/
ini adalah pembuka jataka athakata.
Komentar singkat saja,
secara explisit cerita ini menerangkan tentang sebuah perjalanan pada sebuah jalan ( yang di maksud adalah membaca jataka ) bahwa dalam membaca cerita jataka kita mungkin akan tergoda, terpesona oleh cerita ini (goblin) seperti merchant pertama hingga melupakan untuk apa kita sesungguh nya membaca cerita jataka. Secara halus kita di anjurkan untuk membaca cerita jataka ini setidak nya dua kali. intinya kita harus mempersiapkan diri dalam membaca cerita jataka dan harus berusaha mendapat manfaat yang terdapat pada cerita jataka( digambarkan dengan air [yang dapat diminum dan di gunakan{ jadi tentu nya adalah air yang jernih} ] yang di bawa para merchant).
ini adalah pembuka jataka athakata.
Komentar singkat saja,
secara explisit cerita ini menerangkan tentang sebuah perjalanan pada sebuah jalan ( yang di maksud adalah membaca jataka ) bahwa dalam membaca cerita jataka kita mungkin akan tergoda, terpesona oleh cerita ini (goblin) seperti merchant pertama hingga melupakan untuk apa kita sesungguh nya membaca cerita jataka. Secara halus kita di anjurkan untuk membaca cerita jataka ini setidak nya dua kali. intinya kita harus mempersiapkan diri dalam membaca cerita jataka dan harus berusaha mendapat manfaat yang terdapat pada cerita jataka( digambarkan dengan air [yang dapat diminum dan di gunakan{ jadi tentu nya adalah air yang jernih} ] yang di bawa para merchant).
Langganan:
Postingan (Atom)